Asal Usul Dusun Soprayan Dan Surowangsan

Ketenaran upacara “tebah” menyebar hingga ke luar desa, sehingga banyak orang datang untuk mengikuti sabung ayam atau memohon kehidupan yang tenteram dan berkecukupan. Setiap orang yang datang membawa perlengkapan yang telah disiapkan oleh Ki Ranunggawa. Akibatnya, halaman rumah Ki Ranunggawa berubah menjadi tempat ramai, seperti pasar baru. Semakin lama, tempat itu makin besar karena ada yang mulai berjualan makanan dan hasil pertanian.

Pasar tersebut akhirnya dikenal dengan nama "Pasar Nggawa," karena berada di halaman rumah Ki Ranunggawa. Rumah kecil yang tadinya sederhana kini berubah menjadi pasar yang ramai. Karena itu, Ki Ranunggawa berkeinginan untuk membangun rumah baru sebagai tempat persinggahan, sekaligus memberikan rumah masing-masing untuk kedua anaknya.

Surawangsa, sebagai anak tertua, tinggal di sebelah barat gang, yang kemudian wilayah tersebut dikenal sebagai dusun "Surawangsan." Sementara Surapraya, anak bungsu, tinggal di sebelah timur gang, yang akhirnya dinamakan dusun "Soprayan."

Meskipun kedua dusun ini berbeda, asal usulnya masih satu darah. Hingga saat ini, ada tradisi yang dipegang kuat oleh masyarakat, yaitu tidak berani menjodohkan atau mengadakan pernikahan antar keluarga dari Surawangsan dan Soprayan karena mereka masih dianggap bersaudara.

 

 

Sumber : R.Ry. Iswarajayapangarsa. Soeharto. B.A
Alamat : Nangsri Kidul, Padukuhan Nangsri