Asal Usul Dusun Nganggring Dan Sidorejo
Di lereng Gunung Merapi, hiduplah seorang kyai bernama Kyai Sapu Jagad. Ia dikenal sebagai pengelana yang senantiasa membantu orang-orang dalam kesulitan. Setelah kira-kira telung lapan lamanya di rumah Kyai Joinem, ia berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya, menjelajahi wilayah baru guna membantu masyarakat yang menghadapi musim kemarau panjang yang mengakibatkan tanah menjadi gersang.
Saat berjalan ke arah barat, Kyai Sapu Jagad melewati jalur sempit yang dipenuhi dengan kayu-kayu kering. Ia harus menyingkirkan kayu-kayu tersebut agar bisa melanjutkan perjalanan. Setelah melewati rintangan itu, ia menemukan pohon besar yang berdiri di tepi jurang. Meskipun pohon itu tampak tua dan kering, dulunya ia adalah pohon anggring yang lebat. Pohon anggring dikenal sebagai pohon yang mampu bertahan di lereng Merapi, namun musim kemarau panjang telah membuatnya mati.
Kyai Sapu Jagad beristirahat di bawah pohon itu, namun ia terkejut saat menyadari bahwa tempat duduknya bukanlah batu, melainkan bathang menjangan ( bangkai seekor rusa) yang telah kering karena tidak bisa menemukan air. Menjangan ini, seperti banyak hewan lainnya, mati akibat kekeringan yang parah. Pepohonan dan rumput tampak kering, Pohon besar yang digunakan untuk beristirahat terlihat bahwa dulunya lemu ngrembuyung. Kata orang pohon anggring merupakan jenis pohon yang ada di ereng-ereng gunung merapi dan tahan di musim ketiga, namun adanya musim ketiga yang panjang membuatnya menjadi kering. Tempat itu kemudian diberi nama "Nganggring," sebagai penghormatan terhadap pohon anggring dan menjangan yang mati di sana.
Setelah beristirahat, Kyai Sapu Jagad melanjutkan perjalanannya dan tiba di sebuah jurang saat sore hari. Ia menemukan sebuah gua dan memutuskan untuk bermalam di sana. Ketika pagi tiba, ia terbangun oleh suara gemuruh kelelawar yang memenuhi gua. Gua tersebut akhirnya dinamai "Goa Lawa," karena dihuni oleh kelelawar.
Gambar Goa Lawa (Lokasi : Kalurahan Wonokerto)
Keesokan paginya, Kyai Sapu Jagad melanjutkan perjalanan. Namun, setelah hanya berjalan beberapa langkah, ia mendengar suara gemuruh dari arah utara. Ketika ia mencari sumber suara, ia menemukan seekor ayam jantan dengan bulu ules wiring kuning tengah bertarung sengit melawan seekor ular besar yang bersisik kuning. Ular itu sangat besar, seukuran betis manusia dewasa, dan pertarungan itu hampir membuat ayam jantan tersebut menjadi santapan ular.
Namun, dengan penuh keberanian, ayam tersebut berhasil lolos dan melompat ke dalam lumpur di sebuah ledhokan. Ajaibnya, jalu ayam itu menusuk kepala ular, membuat ular tersebut tewas seketika. Burung-burung sriti segera beterbangan di atasnya, seolah-olah merayakan kemenangan ayam tersebut. Tempat itu kemudian dinamai "Kedhung Sriti," karena di sana burung sriti terbang menyaksikan kejadian luar biasa ini.
Masyarakat sekitar percaya bahwa ayam yang direndam di Kedhung Sriti akan selalu menang dalam adu ayam. Para penggemar adu ayam sering datang ke sana dengan harapan memperoleh keberuntungan.
Keanehan terus berlanjut ketika Kyai Sapu Jagad melihat ular yang panjangnya pathang dhepa tiba-tiba menyusut hingga kecil, seolah-olah tubuhnya berkurang panjang seperti Jarik Nglumpruk. Saat Kyai mendekat, ular itu berubah menjadi sesuatu yang ajaib yaitu sebuah mahkota raja. Dari adanya ular panjang yang mungkret atau berkurang panjangnya dan wujud mahkota raja maka tempat tersebut dikenal sebagai "Sudaraja," "Sidareja," atau "Dadireja," yang berarti tempat di mana ular berubah menjadi mahkota raja.