Asal Usul Dusun Tegal Panggung

Pada zaman dahulu kala, di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit, kehidupan rakyat berjalan dengan damai, namun selalu ada ancaman dari alam dan makhluk liar yang dapat mengganggu ketenteraman warga. Karena itu, Raja Majapahit mengutus para petinggi yang ahli dalam menjaga keamanan untuk ditempatkan di berbagai daerah penting, termasuk di sekitar Gunung Merapi yang dikenal dengan kekuatannya yang kadang membahayakan.

Salah satu petinggi tersebut adalah Ki Losari, seorang prajurit bijak dan tangguh yang ditugaskan untuk mengawasi wilayah sekitar Gunung Merapi. Tugasnya tak hanya memastikan ketenangan warga, tetapi juga mengawasi gunung yang berpotensi meletus, menjaga dari serangan hewan liar, dan memantau adanya kemungkinan kerusuhan.

Setelah menerima tugas, Ki Losari berkelana mencari tempat yang strategis di sekitar Gunung Merapi. Ia butuh tempat yang tinggi, sehingga bisa dengan mudah mengawasi keadaan di sekelilingnya. Perjalanannya membawanya ke sebuah kawasan yang berada di ketinggian, dimana terdapat area persawahan yang lebih tinggi daripada tempat-tempat lainnya. Tempat itu memberikan pandangan luas dan jelas, sangat ideal untuk menjalankan tugasnya.

Di sana, Ki Losari memutuskan untuk membangun sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bambu, dengan atap dari rumput alang-alang dan daun kelapa. Rumah panggung ini tidak hanya menjadi tempat tinggalnya, tetapi juga menjadi menara pengawasan bagi daerah sekitarnya. Dari ketinggian rumah itu, ia dapat melihat pemandangan indah yang terbentang di bawah kaki Gunung Merapi, sambil tetap siap siaga terhadap ancaman yang mungkin muncul.

Seiring berjalannya waktu, warga setempat mulai menyadari keberadaan rumah panggung tersebut. Mereka kerap datang untuk beristirahat di sekitarnya, menikmati ketenangan dan pemandangan yang menyejukkan hati. Rumah panggung Ki Losari pun menjadi tempat berkumpulnya warga, baik untuk bersantai maupun berdiskusi tentang keamanan dan kehidupan sehari-hari.

Karena rumah panggung itu berdiri di atas lahan sawah yang tinggi, warga sekitar mulai menyebutnya sebagai "Tegalpanggung," yang berarti "sawah di atas panggung." Nama itu lama-kelamaan menjadi sebutan umum untuk wilayah tersebut.

Ki Losari menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab hingga akhir hayatnya. Warisan rumah panggungnya yang sederhana namun penuh makna terus dikenang oleh warga. Sejak saat itu, padukuhan tersebut dikenal dengan nama "Tegalpanggung," sebuah tempat yang tak hanya menjadi saksi keindahan alam, tetapi juga kebijaksanaan dan pengabdian seorang prajurit Majapahit.

Dan begitulah asal usul Dusun Tegalpanggung, yang diwariskan dari kebijaksanaan dan keberanian Ki Losari dalam menjaga ketenteraman rakyat di kaki Gunung Merapi.

 

 

Sumber : R.Ry. Iswarajayapangarsa. Soeharto. B.A
Alamat : Nangsri Kidul, Padukuhan Nangsri