Asal Usul Padukuhan Karanggawang
Dalam suasana yang damai dan tentram, serta dengan penghasilan yang melimpah, masyarakat menjadi senang dengan pertunjukan untuk hiburan. Di akhir upacara “tebah”, diadakan pertunjukan Beksan dan wayangan dengan dhalang Gambuh, yang dikenal sebagai wayangan tanpa iringan gamelan.
Saat itu, Ki Ranggawangsa, yang merupakan dhalang terkenal, dibantu oleh anak laki-lakinya, Gawang Jati, untuk mempersiapkan peralatan pertunjukan. Ki Ranggawangsa memiliki keahlian dalam berbagai cerita, sehingga setiap kali menggelar pertunjukan, selalu banyak penonton. Nama Ki Ranggawangsa dan Gawang Jati pun terkenal hingga ke luar desa, dan tempat tinggal mereka kemudian dikenal sebagai "Karanggawang."
Ki Ranggawangsa dan Gawang Jati memiliki keahlian dalam bidang aksara, sastra, bahasa, tata krama, serta kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Untuk menyebarkan ilmu-ilmu tersebut, Ki Gawang Jati secara rutin mengumpulkan tetangga sekitar setiap setengah bulan untuk mempelajari sastra, bahasa, tata krama, dan kepercayaan. Ternyata, gagasan Ki Gawang Jati sangat disukai, tidak hanya oleh tetangganya, tetapi juga oleh orang-orang dari luar desa, sehingga kegiatan ini semakin berkembang.
Tempat belajar yang mengajarkan ilmu aksara, sastra, bahasa, tata krama, dan kepercayaan ini kemudian dikenal sebagai tempat “pono aksara”, yang selanjutnya menjadi nama dusun "Ponosaran."
Sumber : R.Ry. Iswarajayapangarsa. Soeharto. B.A
Alamat : Nangsri Kidul, Padukuhan Nangsri